• 30

    Sep

    Walikota Depok Ingin Menghilangkan Sejarah

    Ada sebuah anekdot yang sering terdengar di masyarakat kita, baik melalui kicauan di dunia maya maupun di dunia nyata, anekdot itu berkisah tentang sebuah masjid yang ada di suatu kampung. Anekdot itu berbunyi : Ketika kedatangan orang-orang NU yang mengurus masjid, paling-paling yang hilang cuma sandal. Dan ketika kedatangan orang-orang Muhammadiyah yang mengurus masjid, paling-paling yang hilang cuma do’a qunut waktu sholat shubuh dan tahlilan. Tetapi, ketika kedatangan orang-orang PKS yang mengurus masjid maka mereka harus bersiap-siap untuk kehilangan masjidnya. Anekdot ini sepertinya sangat pas dengan kondisi yang terjadi di Kota Depok dibawah pimpinan Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sepak terjang PKS, lebih lengkapnya b
  • 30

    Jan

    Nur Mahmudi Ismail : Kota Depok Tidak Perlu Balai Latihan Kerja

    Entah apa yang ada di hati nurani Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail ketika menyampaikan bahwa Balai Latihan Kerja (BLK) di Kota Depok belum dibutuhkan keberadaannya, alasan yang disampaikan oleh Nur Mahmudi bahwa BLK tidak perlu karena di Depok sudah banyak perguruan tinggi yang menyediakan latihan kerja, lebih jauh Nur Mahmudi mengatakan BLK hanya menghabiskan biaya besar, dari pada menghabiskan biaya besar lebih baik mengadakan pelatihan di perguruan tinggi terdekat. Miris sekali mendengar penyampaian seorang kepala daerah yang begitu mudahnya mengatakan bahwa BLK belum diperlukan dan menghabiskan biaya yang sangat besar, Pernyataan ini disampaikan oleh beliau tiga tahun yang lalu. Benarkah pernyataannya itu ? Karena faktanya sampai saat ini, pernyataan orang nomor satu di Kota Depok
- Next

Author

Follow Me